Selasa, 16 Agustus 2011

PROGRAM PENGABDIAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DALAM PENATALAKSANAAN KANKER SERVIKS SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KUALITAS KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA

             Kanker serviks adalah penyakit kanker yang terjadi pada daerah leher rahim. Yaitu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim. Letaknya antara rahim (uterus) dengan liang senggama wanita (vagina). Kanker ini 99,7% disebabkan oleh human papilloma virus (HPV) onkogenik, yang menyerang leher rahim. Berawal terjadi pada leher rahim, apabila telah memasuki tahap lanjut, kanker ini bisa menyebar ke organ-organ lain di seluruh tubuh penderita.
Pertama, kanker serviks disebabkan oleh virus HPV (Human Papilloma Virus). Virus ini memiliki lebih dari 100 tipe, di mana sebagian besar di antaranya tidak berbahaya dan akan lenyap dengan sendirinya. Jenis virus HPV yang menyebabkan kanker serviks dan paling fatal.Akibatnya adalah virus HPV tipe 16 dan 18. Kanker ini 99,7% disebabkan oleh human papilloma virus (HPV) onkogenik, yang menyerang leher rahim. Berawal terjadi pada leher rahim, apabila telah memasuki tahap lanjut, kanker ini bisa menyebar ke organ-organ lain di seluruh tubuh penderita.
Kedua, selain disebabkan oleh virus HPV, sel-sel abnormal pada leher rahim juga bisa tumbuh akibat paparan radiasi atau pencemaran bahan kimia yang terjadi dalam jangka waktu cukup lama.
Sebab langsung dari kanker serviks belum diketahui secara pasti. Kelompok yang termasuk risiko tinggi yaitu :
1.      Insiden lebih tinggi pada mereka yang kawin.
2.      Koitus pertama pada usia amat muda (<1 tahun).
3.      Meningkatnya paritas.
4.      Sosial ekonomi rendah.
5.      Aktifitas seksual yang sering berganti-ganti pasangan.
6.      Sering pada wanita yang mengalami infeksi virus HPV (Human Papilloma Virus) tipe 16 atau 18.
7.      Kebiasaan merokok.
Stadium dalam kanker serviks adalah sebagai berikut :
Stadium 1         : sel tumor masih terbatas di daerah serviks
Stadium 2         : sel tumor telah keluar dari serviks dan mencapai daerah 2/3 bagian atas vagina namun belum mencapai dinding panggul
Stadium 3         : sel tumor telah mencapai 1/3 bagian bawah vagina dan telah mencapai dinding panggul
Stadium 4         : sel tumor telah mencapai kandung kencing atau mukosa rektum atau sel tumor telah berpindah jauh atau sel tumor telah keluar dari panggul kecil

Karsinoma serviks timbul di batas antara epitel yang melapisi ektoserviks (portio) dan endoserviks kanalis serviks yang di sebut Squamo-Columnar- Junction  (SCJ) lesi di daerah ini sering dihubungkan dengan adanya servisitas menahun, displasia berat dan karsinoma in situ (KIS). Proses keganasan dapat menembus membrana basal dari epitel dan menginasi stroma serviks. Kalau invasi kurang dari 5 mm di sebut mikro-invasi, sedang bila invasi lebih dari 3 mm tapi kurang dari 5 mm dan secara makroskopik tak terlihat di sebut Karsinoma invasi occult.
Pada wanita muda SCJ ini berada di luar ostium uteri eksternum, sedang pada wanita berumur 35 tahun, SCJ berada di dalam kanalis serviks. Maka untuk melakukan pap-smear yang efektif, dapat mengusap zone transformasi, harus dikerjakan dengan skraper dari Ayre atau Cytobrush.
Tumor dapat tumbuh :
1.      Eksofitik mulai dari SCJ kearah lumen vagina sebagai masa proliteratif yang mengalami infeksi sekunder dan nekrosis.
2.      Endofitik, mulai dari SCJ tumbuh kedalam stroma serviks dan cenderung untuk mengadakan infiltrasi menjadi ulkus.
3.      Ulseratif mulai dari SCJ dan cenderung merusak struktur jaringan serviks menjadi ulkus yang luas.
Dari penelitian prospektif di dapat kesan bahwa kanker serviks jenis skuamosa bermula sebagai keadaan yang di sebut displasia. Displasia mencakup berbagai lesi epitel yang secara sitologik dan histologik berbeda dari epitel normal, tetapi belum mempunyai kriteria keganasan.
Displasia di bagi menjadi 3 tingkatan :
1.      Displasia ringan, bila kelainan dari epitel terbatas pada lapisan basal.
2.      Displasia sedang, bila lesi melebihi ½ dari lapisan epitel.
3.      Displasia berat, bila seluruh lapisan epitel sudah terkena.(5,9)
Karena displasia berat sukar dibedakan dengan karsinoma in-situ (KIS), Richart mengusulkan pemakaian istilah Cervical-Intra epithelial Neoplasia (CIN) atau Neoplasia Intra epitel Serviks (NIS) dan di bagi menjadi :

1.  NIS I    : untuk displasia ringan.
2.  NIS II   : untuk displasia sedang.
3.  NIS III : untuk displasia berat dan KIS.

NIS atau CIN ialah gangguan diterensiasi sel pada lapisan epitel skuamosa serviks, dan mempunyai potensi menjadi karsinoma invasif. Dengan menemukan NIS dan mengobatinya maka dapat di cegah timbulnya karsinoma serviks invasif. Menurut Dexeus dkk, perkembangan kanker serviks sangat bervariasi, waktu yang diperlukan oleh penderita displasia untuk menjadi KIS : (1)

Tingkat displasia
Waktu dalam bulan
Sangat ringan
Ringan
Sedang
Berat
85 ( + 7 tahun)
58 ( + 5 tahun)
38 ( + 3 tahun)
12 ( + 1 tahun)

 Sedang dari KIS menjadi invasif  memerlukan waktu 3-20 tahun.

Diagnosis
·         Sitilogi
Tes Pap (Tes Papanicolaou) sangat bermanfaat untuk mendeteksi lesi secara dini, yaitu sejak dalam tingkat displasia dan KIS. Ketelitian melebihi 90% bila dilakukan dengan baik, secara pemeriksaan yang teliti.
The American Cancer Society menyarankan pemeriksaan ini dilakukan rutin pada wanita yang tidak menunjukkan gejala, sejak umur 20 tahun atau lebih atau kurang dari 20 tahun bila secara seksual ia sudah aktif. Pemeriksaan dilakukan setiap tahun 2 kali berturut-turut dan bila negatif, maka pemeriksaan berikutnya paling sedikit setiap 3 tahun - berumur 65 tahun.
Bila hasil pemeriksaan menunjukkan atipia atau displasia ringan maka pemeriksaan di ulang sesudah 2 minggu agar disfoliasi sel cukup representatif. Bila hasilnya sama, pasien di awasi secara ketat dan tes Pap di ulang setiap 6 bulan. Kalau sitologi menunjukkan displasia atau keganasan, maka dilakukan biopsi terarah dan sebaiknya dilakukan juga kuretase endoserviks.
·         Kolposkopi
Hampir semua NIS terjadi pada daerah transformasi, yaitu daerah yang terjadi akibat proses metaplasia. Daerah ini seluruhnya dapat di lihat dengan alat kolposkop, sehingga biopsi dapat dilakukan lebih terarah.
·         Biopsi
Biopsi dilakukan pada daerah yang abnormal jika sambungan skuamo kolumnar (SSK) terlihat seluruhnya dengan kolposkopi, atau pada daerah yang tidak terwarnai oleh larutan Lugol-Yudium 5% (Tes Schiller). Jika SSK tidak terlihat seluruhnya, maka contoh jaringan di ambil secara konisasi. Biopsi harus dilakukan dengan tepat dan alat biopsi harus tajam, sehingga tidak merusak epitel.
·         Kuretase endoserviks.
Kuretase endoserviks harus dilakukan setelah tindakan biopsi terarah, kecuali pada wanita hamil. Walaupun kuretase kurang akurat untuk menilai derajat invasif, namun tindakan ini dapat memperkecil kemungkinan adanya kanker invasif, khusunya bila lesi berada di kanalis servikalis.
·         Konisasi
Untuk tujuan diagnostik maka tindakan konisasi harus selalu dilanjutkan dengan kuretase. Batas jaringan yang dikeluarkan berdasarkan atas pemeriksaan kolposkopi dan / atau hasil pewarnaan Lugol – Yodium 5%. Konisasi dilakukan bila :
1.      Proses di curigai ada di endoserviks.
2.      Lesi tidak tampak seluruhnya dengan kolposkopi.
3.      Diagnosis mikro-invasif ditegakkan hanya dari biopsi.
4.      Ada kesenjangan antara hasil sitologik dan histologik.
5.      Pasien sukar di follow-up secara terus-menerus.(7.10.11)
·         Perobahan kearah abnormal
Pada peralihan terdapat sel-sel yang mempunyai kecenderungan besar untuk mengalami perubahan kearah abnormal. Hal ini disebabkan oleh sifat sel-sel tersebut yang membelah diri sepanjang masa dan dalam waktu cepat. Dalam proses kehidupan normal sel pada daerah peralihan agaknya rentan terhadap rangsangan dari zat biologik, kimiawi atau virus yang dapat menyebabkan perubahan abnormal, zat-zat itu di sebut sebagai mutagenik.
Lapisan skuamosa terdiri dari beberapa lapis sel dan pada bagian dasar dari lapisan ini, terdiri dari sel-sel muda yang mempunyai inti sel. Dalam keadaan normal sel-sel ini akan beranjak kelapisan berikutnya, dan inti sel secara bertahap akan mengecil. Semakin matang sel tersebut, maka semakin dekat ke pemukaan. Sel yang terletak pada permukaan akan terkelupas (eksfolisasi), kemudian sel yang lebih muda akan menggantikannya.
Jika terdapat perubahan ke arah abnormal, maka akan terjadi gangguan proses pematangan sel dan lapisan sel muda atau sel yang belum matang (imatur) akan bertambah sel ini mempunyai inti yang besar. Pola dari gangguan perkembangan sel ini di sebut sebagai displasia/neoplasia intra epitelial serviks (NIS). Sel yang abnormal juga mempunyai kecenderungan untuk terkelupas seperti sel normal dan dapat di lihat dengan mikroskop.
·         Bahan pemeriksaan apusan PAP
Bahan pemeriksaan apusan Pap, terdiri atas sekret vagina, sekrel endometrial dan forniks posterior. Setiap sekret mempunyai manfaat penggunaan yang khas, di mana untuk pemeriksaan tertentu sediaan apusan Pap yang di baca harus berasal dari lokasi tertentu pula, oleh sebab itu pengambilan sediaan harus disesuiakan dengan tujuan pemeriksaan yang di inginkan oleh Obstetri dan Ginekologi.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, saat ini penyakit kanker serviks menempati peringkat teratas di antara berbagai jenis kanker yang menyebabkan kematian pada perempuan di dunia. Sekitar 8000 kasus di antaranya berakhir dengan kematian. Di Indonesia sampai saat ini kanker serviks masih menduduki tempat pertama dalam urutan keganasan pada wanita. Di Bagian Obstetri dan Ginekologi RSCM selama tahun 1986-1990 di peroleh penderita kanker ginekologik sebanyak 2360 kasus dan kanker serviks merupakan kanker terbanyak yaitu 77.2% atau 1821 kasus.
Pencegahan dan deteksi dini sangatlah penting sebab jika kanker di temukan pada saat stadium dini maka harapan hidup lebih lama dibandingkan dengan kanker yang memasuki stadium lanjut. Adapun pengobatan KMR adalah dengan kemoterapi, radioterapi hingga pembedahan.
Saat ini Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC) Dompet Dhuafa akan mengadakan kegiatan diagnosa dini terhadap 10.000 kaum perempuan dari keluarga dhuafa secara cuma-cuma. Mengingat banyak kalangan perempuan kaum dhuafa mengalami kesulitan biaya untuk memeriksakan diri sejak dini ke dokter atau Rumah Sakit. Semoga semakin banyak kaum perempuan yang terselamatkan dari cengkraman kematian akibat menderita kanker serviks. Mari kita peduli untuk saling berbagi.
Fakultas kedokteran juga memiliki peran penting dalam penatalaksanaan kanker serviks dan berpotensi dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia, dimana dalam mata kuliah mahasiswa sebagaimana kita kenal terdapat program pengabdian masyarakat. Melalui sosialisasi, praktik kerja, seminar dan masih banyak lagi pengabdian yang dilakukan, Sebagaimana terdapat pada gambar di bawah ini.


Referensi :
Aziz MF, Ketahanan Hidup Penderita Kanker Serviks Uteri Di RSCM, Jakarta, MOGI, vol 21, No. 3 1997, hal 182-183.
Lestadi Yulizar, Penuntun Diagnostik  Praktis, Sitologi Hormonal Apusan Pap, Bagian Sitologi Departemen Patologi Anatomi, RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, 1995, hal 4-6.
Lestadi Yulizar, Sitologi Eksfoliatif, Buku Panduan Penuntun Skriner, Bagian Obstetri dan Ginekologi Sub Bagian Sito.
Sianturi MHR, Pap Tes : Masihkan Berperan Dalam Deteksi Dini Kanker Serviks. Majalah Kedokteran Indonesia, 1991, 41, hal 240-242.
Sutoto Strategi Skrining Neoplasia Intraepitelial Serviks, KOGI X, Padang, 1996.